简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
Krisis Selat dan Kebuntuan Pengawalan Militer: Pertarungan Ketahanan Energi Global
Ikhtisar:【Gambar 1: Ilustrasi Ketegangan di Selat】Volume pelayaran di Selat Hormuz secara historis turun menjadi nol pada 14 Maret. Presiden Donald Trump memberi sinyal kemungkinan serangan terhadap Pulau Khar

【Gambar 1: Ilustrasi Ketegangan di Selat】
Volume pelayaran di Selat Hormuz secara historis turun menjadi nol pada 14 Maret. Presiden Donald Trump memberi sinyal kemungkinan serangan terhadap Pulau Khark, pusat ekspor minyak Iran. Pernyataan tersebut memicu ancaman balasan tegas dari Iran, yang juga mengisyaratkan telah menyembunyikan uranium yang diperkaya sebagai kartu strategis.
Di tengah tekanan kekurangan pasokan energi global yang diperkirakan mencapai 10 juta barel per hari, sekutu Barat menunjukkan retakan serius dalam koordinasi pengawalan militer.
Infrastruktur pelayaran dan energi di kawasan Teluk kini berada di ambang krisis besar:
Terhentinya Selat Hormuz
Pada tanggal 14, jumlah kapal yang melintas tercatat nol untuk pertama kalinya, menandai terputusnya jalur energi yang menyumbang sekitar 20% pasokan energi global. Meski Menteri Keuangan AS Bessent menyatakan adanya toleransi terhadap sebagian tanker Iran untuk keluar guna menjaga pasokan, keamanan jalur pelayaran pada praktiknya telah hilang sepenuhnya.
Krisis Pulau Khark
Trump mengisyaratkan kemungkinan serangan terhadap pulau tersebut. Jika fasilitas yang menangani sekitar 90% ekspor minyak Iran ini mengalami kerusakan, Iran memperingatkan akan melakukan pembalasan terhadap seluruh aset Amerika Serikat di Timur Tengah.
Serangan terhadap Fujairah
Pelabuhan Fujairah, satu-satunya jalur ekspor UEA yang dapat menghindari Selat Hormuz, kembali diserang pada hari Senin sehingga aktivitas bongkar muat dihentikan. Insiden ini memutus opsi pasokan alternatif terakhir, mendorong harga WTI mendekati level USD100 per barel.
Menurut estimasi pasar, produksi minyak Timur Tengah telah berkurang sekitar 7–10 juta barel per hari, sebuah gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya:
UEA (ADNOC): Melakukan penghentian produksi skala besar, dengan output harian turun lebih dari setengah.
Arab Saudi dan Irak: Arab Saudi memangkas produksi sekitar 20%, sementara Irak mengalami penurunan hingga 70% akibat gangguan ekspor.
Meskipun kekurangan pasokan sangat besar, Menteri Keuangan Bessent tetap menyatakan bahwa harga minyak bisa turun jauh di bawah USD80 dalam beberapa bulan ke depan. Pernyataan optimistis ini kontras dengan realitas harga minyak yang mendekati USD100, menunjukkan upaya Gedung Putih dalam mengelola ekspektasi publik di tengah tekanan geopolitik.
Iran juga menyatakan telah menyembunyikan 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60%, dan tidak berniat untuk mengungkap lokasinya untuk sementara waktu. Langkah ini dianggap sebagai bentuk deterrence nuklir, memperingatkan bahwa upaya perebutan melalui operasi darat oleh AS atau Israel dapat memicu konsekuensi yang sangat serius.
Sebagai bagian dari respons multi-front, Iran pada hari Senin juga melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di Qatar dan UEA, serta mengancam akan menargetkan rantai industri Amerika di Timur Tengah.
Analisis Penulis
Harga Energi
WTI tercatat di USD98.59, sementara Brent stabil di atas USD103. Selama pelabuhan Fujairah belum sepenuhnya pulih, ruang penurunan harga minyak diperkirakan sangat terbatas.
Pasar Saham Eropa
Meskipun indeks STOXX600 sempat rebound, tren penurunan selama dua minggu terakhir menunjukkan kekhawatiran pasar terhadap konflik yang berpotensi berkepanjangan, menggantikan optimisme bahwa perang akan berakhir dalam waktu 4–6 minggu.
Fragmentasi Geopolitik
Kegagalan membentuk koalisi pengawalan menunjukkan kemampuan mobilisasi Amerika Serikat di kawasan mulai menghadapi resistensi strategis dari sekutu, terutama Prancis dan Jerman. Kondisi ini berpotensi memicu pergeseran pengaruh geopolitik di Timur Tengah setelah konflik.
【Gambar 2: Analisis Emas H1 (Timeframe 1 Jam)】
Jika harga menembus di bawah 5000, pasar berpotensi melanjutkan penurunan menuju 4980 bahkan 4950.
Sebaliknya, jika harga mampu bertahan di atas 5000 dan kembali ke kisaran 5050–5100, peluang rebound menuju zona resistensi 5100–5200 akan terbuka.

Pergerakan emas pada timeframe H1 saat ini menunjukkan pola konsolidasi dengan bias bearish. Setelah gagal menembus area resistensi 5100, harga terus melemah dan menembus support sebelumnya sebelum akhirnya mencapai area 5000, di mana muncul indikasi penghentian penurunan dalam jangka pendek.
Saat ini harga bergerak dalam kisaran sempit 5000–5030, menandakan adanya minat beli di sekitar level psikologis tersebut. Namun secara keseluruhan, struktur pasar masih berada dalam fase konsolidasi rendah dalam tren menurun.
Pergerakan selanjutnya perlu memperhatikan support psikologis 5000 dan area resistensi 5100.
Selama harga belum mampu kembali di atas 5100, struktur jangka pendek masih cenderung bearish dengan pola konsolidasi.
Peringatan Risiko
Pandangan, analisis, penelitian, harga, maupun informasi lainnya di atas hanya merupakan komentar pasar secara umum dan tidak mewakili posisi resmi platform. Setiap pembaca bertanggung jawab penuh atas keputusan investasinya sendiri. Harap melakukan transaksi dengan hati-hati.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.
WikiFX Broker
HFM
IC Markets Global
eightcap
FOREX.com
VT Markets
GO Markets
HFM
IC Markets Global
eightcap
FOREX.com
VT Markets
GO Markets
WikiFX Broker
HFM
IC Markets Global
eightcap
FOREX.com
VT Markets
GO Markets
HFM
IC Markets Global
eightcap
FOREX.com
VT Markets
GO Markets
