简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
اردو
Dolar AS Stabil di Tengah Rilis Data Inflasi dan Eskalasi Geopolitik
Ikhtisar:Dolar AS ditutup nyaris datar dipengaruhi oleh rilis data inflasi terbaru dan kembali memanasnya konflik di Timur Tengah. Pelaku pasar kini mengekspektasikan suku bunga bank sentral AS tetap tinggi di tengah tingkat inflasi tahunan yang melampaui angka 4%.

Nilai tukar Dolar AS terpantau bergerak nyaris datar di tengah memanasnya kembali eskalasi konflik di Timur Tengah setelah serangkaian serangan yang melibatkan militer Amerika Serikat dan Iran. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan mata uang acuan tersebut terhadap sejumlah mata uang utama lainnya, ditutup sedikit menguat di kisaran 100,04.
Ketegangan geopolitik yang kembali memuncak ini menggerus ekspektasi akan adanya kesepakatan damai dalam waktu dekat, sekaligus memicu aksi jual di berbagai bursa saham global seperti di wilayah Asia dan Amerika Serikat.
Dari sisi data ekonomi, laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat untuk bulan Mei menunjukkan lonjakan inflasi tahunan yang mencapai 4,20%, menjadi level tertingginya dalam tiga tahun terakhir.
Lonjakan inflasi ini disokong kuat oleh melonjaknya harga bahan bakar dan energi sebagai imbas dari penutupan akses di Selat Hormuz, meski tingkat inflasi inti dilaporkan stabil pada angka 2,90% sesuai dengan ekspektasi pasar.
Pada pergerakan pasangan mata uang mayor, Dolar AS mencatatkan penguatan tipis terhadap Euro dan Poundsterling, namun mengalami koreksi terhadap mata uang yang dianggap aman (safe-haven) seperti Yen Jepang dan Franc Swiss.
Selain itu, Dolar AS juga terapresiasi tipis terhadap Dolar Kanada menyusul keputusan pengumuman bank sentral Kanada yang sesuai perkiraan pasar tetap mempertahankan suku bunga utamanya di level 2,25%.
Kondisi inflasi Amerika Serikat yang bertahan kokoh di atas 4% turut membentuk arah pandang pasar terhadap kebijakan moneter mendatang.
Terdapat proyeksi kuat bahwa bank sentral AS akan kesulitan untuk memangkas ketersediaan likuiditas uang, sehingga akan cenderung mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka pendek menjelang jadwal pengumuman rapat kebijakannya untuk penetapan suku bunga ke depan.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.
