简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
اردو
Literasi Keuangan Remaja RI Cuma 56%, OJK Turun ke Sekolah
Ikhtisar:SNLIK 2026 mencatat literasi keuangan remaja usia 15–17 tahun hanya 56,04 persen, jauh di bawah inklusi keuangan 89,13 persen. OJK merespons dengan rencana mengintegrasikan edukasi keuangan ke kurikulum sekolah.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat indeks literasi keuangan kelompok usia 15–17 tahun hanya 56,04 persen, jauh di bawah indeks inklusi keuangan yang mencapai 89,13 persen.
Sebagian besar remaja Indonesia sudah memiliki akses ke produk dan layanan keuangan, tetapi belum separuhnya yang benar-benar memahami produk yang mereka gunakan.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan bahwa intervensi edukasi harus dilakukan sebelum generasi muda menjadi pengguna aktif produk keuangan.
OJK berencana mengintegrasikan materi literasi keuangan ke dalam kurikulum pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi.
Kesenjangan yang Mencolok
SNLIK 2026 mengungkap selisih lebih dari 33 poin persentase antara literasi dan inklusi keuangan remaja. Secara nasional, indeks literasi keuangan mencapai 69,57 persen, naik 2,93 poin persentase dari 66,64 persen pada 2025.
Indeks inklusi keuangan nasional menyentuh 93,61 persen, meningkat dari 92,74 persen. DKI Jakarta mencatat indeks inklusi keuangan konvensional tertinggi.
Mengapa Kesenjangan Ini Berisiko
Friderica menjelaskan bahwa tingginya inklusi dibandingkan literasi menunjukkan masyarakat semakin mudah mengakses produk jasa keuangan, tetapi belum seluruhnya memahami produk yang digunakan.
Kondisi ini membuat masyarakat tetap rentan mengalami kerugian.
Ia juga mengingatkan bahwa korban tidak selalu berasal dari kelompok dengan literasi rendah. Kadang-kadang mereka sebenarnya mengerti, misalnya mereka ditawari return yang luar biasa tinggi.
Tetapi karena terdorong keserakahan, mereka ikut masuk dan akhirnya menjadi korban, ujarnya di acara Hasil SNLIK 2026, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Literasi keuangan tidak hanya mencakup pengetahuan, tetapi juga keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku. Pendekatan edukasi pun tidak bisa sekadar menyampaikan informasi.
OJK Masuk Sekolah
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono menyatakan OJK akan bekerja sama dengan kementerian terkait.
Untuk pendidikan dasar dan menengah, koordinasi dilakukan dengan Kemendikdasmen. Untuk perguruan tinggi, OJK menggandeng kementerian terkait lainnya.
Materi edukasi disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kelompok usia. OJK menggunakan pendekatan siklus kehidupan. “Pendekatan edukasi keuangan tidak bisa bersifat one-size-fits-all,” tegas Friderica.
Melampaui Target, Pekerjaan Belum Selesai
Capaian 2026 telah melampaui target RPJMN 2025–2029: literasi keuangan 59,39 persen dan inklusi keuangan 93 persen pada 2029. Dengan indeks literasi 69,57 persen dan inklusi 93,61 persen, target sudah terlampaui lebih awal.
Namun, angka literasi remaja 56,04 persen menjadi pengingat bahwa pekerjaan besar masih menanti. OJK terus memperkuat edukasi keuangan, termasuk materi pengelolaan keuangan dan investasi ilegal, untuk menutup celah antara akses dan pemahaman.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.










